Warga Kabupaten Semarang Tega Pukul Ayah Kandungnya Hingga Tewas Lantaran Tak Dibiayai Menikah

  • Whatsapp

TajukMuriaCom, Semarang – Maksud hati menyampaikan niatan agar dibantu biaya mempersunting gadis pujaan, namun justru sakit hati yang didapat.

Demikianlah yang terjadi pada Jamsin (27), warga Desa Penawangan, Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang.

Bacaan Lainnya

Loading...

Jamsin memukul kepala bapak kandungnya, Slamet (58), sebanyak tiga kali hingga korban mengalami luka serius dan meninggal dunia.

Slamet sempat dilarikan ke rumah sakit, namun sebelum sempat mendapatkan perawatan, ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Jamsin sempat mencoba melakukan pelaporan dan membuat alibi palsu dengan menyebutkan bahwa Slamet dianiaya orang lain.

Namun ketika kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan melakukan reka adegan, akhirnya didapati bahwa pelaku penganiayaan ialah Jamsin.

Jamsin pun tak dapat lagi mengelak atas perbuatannya.

Jamsin dilaporkan oleh Tanti yang tidak lain merupakan kakak kandungnya karena telah mengakibatkan nyawa orang tuanya hilang.

Saat dilakukan Konferensi Pers di Mapolres Semarang pada Jumat (5/4/2019) pagi, Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP David Widya didampingi oleh Kasubbag Humas Polres Semarang, AKP Teguh Susilo Hadi menyampaikan peristiwa yang bermula pada Sabtu (30/3/2019) pukul 22.00 WIB.

Saat itu, Jamsin berkumpul bersama tiga rekannya sambil mengonsumsi minuman keras jenis tuak yang didapat dari orang yang sedang hajatan menikah.

Baca juga !  Jateng 5 Besar Provinsi Kasus HIV Tertinggi di Indonesia

Keempatnya minum di sebuah pematang sawah di Desa Penawangan.

Usai minum, sekitar Minggu (31/3/2019) dini hari pukul 2.30 WIB, Jamsin pulang ke rumah bulik atau bibinya yang hanya berjarak empat meter dari rumahnya.

Jelang tertidur, Jamsin teringat perkataan sang ayah sesaat setelah ia keluar dari penjara pada Agustus 2018.

Selepas keluar dari penjara, Jamsin menyampaikan niatan untuk melamar gadis pujaan yang masih tinggal satu desa dengannya.

Namun Slamet menjawab agar Jamsin mencari biaya nikah sendiri.

Mengingat ucapan Slamet, muncullah perasaan benci dan jengkel pada bapaknya.

Jamsin pun memiliki niatan untuk membunuh bapaknya yang dianggapnya tidak bertanggung jawab padanya.

“Kemudian tersangka keluar dari rumah buliknya dan berjalan ke rumah bapaknya. Ia pun mengambil balok kayu jati yang biasa digunakan sebagai ganjal pintu rumah,” ujar David.

Jamsin memukulkan balok kayu jati tersebut ke kepala bapaknya yang saat itu sedang tertidur dalam keadaan miring. Saat itu hanya ada Slamet di rumah mereka.

Jamsin memukulkan menggunakan kedua tangannya, balok diangkat tinggi dan dipukulkan dengan keras ke arah kepala Slamet.

Korban yang sedang tertidur tak dapat melakukan perlawanan.

“Sesaat setelah memukul bapaknya, Jamsin mendatangi warung Rosid (40), tetangganya yang berjualan mie ayam bakso dan menceritakan bahwa ia telah memukul bapaknya,” imbuh David.

Baca juga !  Masuki Musim Penghujan, BPBD Siaga 24 Jam

Polisi mengamankan barang bukti dari pelapor berupa satu buah bantal berwarna coklat yang terdapat bercak darah korban, satu potong celana panjang warna hitam, dan satu potong baju lengan pendek warna merah motif batik.

Sementara barang bukti yang diamankan dari tersangka ialah satu potong baju lengan panjang warna abu-abu, satu potong celana denim pendek warna biru, dan satu buah balok kayu jati sepanjang 80 cm, lebar 7 cm, dan tebal 2 cm.

Jamsin yang mengenakan penutup wajah nampak menitikkan air mata.

Di hadapan awak media, lelaki bertato yang berprofesi sebagai buruh ini banyak terdiam dan menunduk.

Kini harapannya untuk mempersunting gadis pujaan justru berbuah hukuman.

Jamsin harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi.

Ia diancam Pasal 351 ayat 3 KUHP yakni barang siapa dengan sengaja melakukan penganiayaan hingga meyebabkan matinya orang, dan atau Pasal 338 KUHP yakni barang siapa yang dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain, dan Pasal 44 Ayat 3 juncto Pasal 5 Huruf A Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga yakni setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam rumah tangga yang mengakibatkan matinya korban.

Jamsin diancam hukuman 15 tahun penjara.

“Namun karena pelaku masih merupakan keluarga, hukuman ditambah 1/3 sehingga hukuman penjara maksimal 20 tahun,” pungkas David.

Sumber : Tribun.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *