Mulai Menipis Tergerus Aliran Air Sungai, 1,6 Km Tanggul di Hadiwarno Dinilai Kritis

  • Whatsapp

tajukmuria.com, Kudus – Kondisi tanggul Sungai Piji di Desa Hadiwarno, Kecamatan Mejobo cukup memprihatinkan. Tanggul sepanjang 1,6 kilometer itu mulai tipis, lantaran terus menerus terkikis derasnya aliran air Sungai Piji.

Dari pengamatan Kepala desa bersama dengan PUPR Kudus, tanggul bagian timur sungai merupakan tanggul alami yang banyak ditumbuhi pohon bambu. Meski memiliki ketebalan yang cukup, tanggul alami tersebut rawan jebol lantaran kondisi tanahnya yang gembur.

Bacaan Lainnya

Loading...

Kemudian di tanggul bagian barat Sungai Piji, jika diperhatikan secara sekilas kondisinya cukup baik karena telah dilengkapi dengan parapet sungai. Hanya saja, jika diamati lebih tajam kondisi tanggul tersebut cukup memprihatinkan.

Baca juga !  Wagub Jateng Meminta Penanganan Jenazah Pasien COVID-19 di RS Libatkan "Modin"

Pasalnya tanggul tersebut cukup tipis dan beberapa parapetnya retak-retak. Sehingga saat debit air Sungai Piji meningkat, tanggul tersebut kerap rembes atau bocor.

Kepala Desa Hadiwarno, Sugiyanto menilai kondisi tanggul Sungai Piji yang melintas di desanya sudah tergolong kritis dan butuh penanganan segera.

Kerap melaporkan kondisi tanggulnya yang rawan jebol ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Pihaknya dibuat kecewa atas sikap BBWS yang kurang responsif dalam bersinergi mengantisipasi bencana.

“Dari BBWS biasanya akan melakukan perbaikan tanggul, setelah ada yang jebol. Itupun perbaikannya hanya di titik yang jebol saja,” sambungnya, saat melakukan pengecekan tanggul Senin (13/1).

Kepada awak media, dia mengungkapkan jika Minggu (12/1) Pemerintah Desa Hadiwarno bersama warga melakukan penambalan darurat pada tanggul RT 2 RW 10. Karena parapet tanggul tersebut sudah tipis dan keropos.

Baca juga !  Hujan Angin Kencang Robohkan Pohon Besar di Blora

“Kalau nunggu dari BBWS lama, jadi kemarin kami tambal sendiri,” celetuknya.

Sementara itu, Camat Mejobo, Harso Widodo mengatakan jika pihaknya sudah beberapa kali melaporkan tanggul kritis di Hadiwarno dan Golantepus ke BBWS. Hanya saja, belum bisa melakukan perbaikan lantaran BBWS hanya melakukan kegiatan operasional terhadap tanggul-tanggul tersebut.

Selain itu, faktor minimnya alokasi dana untuk Sungai Piji dan sekitarnya membuat BBWS sebagai instansi yang mengelola sungai-sungai di Kudus tidak dapat berbuat banyak.

Untuk meminimalisir potensi tanggul jebol dan bencana banjir di Kecamatan Mejobo, Harso mengaku telah berkoordinasi dengan kades terkait untuk melakukan penambalan tanggul dengan terucuk bambu dan karung yang diisi tanah.

“Sementara itu yang bisa kami lakukan sebagai langkah antisipasi,” ungkapnya. (TM/HIM)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *