Muria Hits

Selasa, 18 Desember 2018 - 08:25 WIB

2 tahun yang lalu

logo

Kisah Dawet Legendaris yang Sejak 60 Tahun Jadi Khas Mantingan Jepara

TAJUK MURIA, JEPARA – Jika berkunjung ke Jepara, khususnya wisata religi Makam Mantingan, jangan lupa mampir ke Cendol Mantingan. Cendol yang melegenda dari empat generasi ini cukup familier bagi masyarakat Jepara.  Tak hanya rasa yang unik, kuliner tradisional ini juga memiliki rasa segar dan mengenyangkan.

Berbeda dengan cendol pada umumnya yang menyajikan cendol beserta santan ditambah dengan kemanisan gula merah cair, di dawet Mantingan ini kita dapat menemukan cendol yang cukup mungil dicampur dengan bubur pati yang memiliki rasa gurih dan manis.

Dawet Mantingan ini juga menjadi pilihan warga sekitar disaat terik matahari menjelang. Perpaduan rasa khas gula aren dicampur dengan perasan santan ini membuat dawet tersebut makin gurih, manis dan segar.

Farida (50),generasi keempat dawet Mantingan ini mengaku keluarganya mulai berjualan dawet sejak 60 tahun yang lalu. Awalnya, usaha dawet ini dirintis oleh mbah buyutnya Mbah Sanisih. Kala itu, Mbah Sanisih merintis usaha di depan Makam Mantingan tepatnya di bawah pohon ringin.

Baca juga !  Syahdunya Pelesiran di Pantai Bondo Jepara

Melihat banyaknya usaha dawet di Jepara, sang pioner ini mencoba membuat resep baru. Ia memadukan cendol yang dibuat dari sagu aren yang hanya ada di Jepara, khususnya daerah Plajan, dengan bubur pati.

Karena terbuat dari sagu aren itulah cendol Mantingan ini menjadi terkenal dan tidak dapat ditemukan di penjual cendol lainya, sehingga banyak orang yang merasakanya ingin kembali merasakan gurihnya cendol Mantingan. Kemudian dari mulut ke mulut akhirnya cendol Mantingan ini menjadi salah satu tujuan pelancong dari luar kota.

Setelah mbah Sanisih tiada, usaha tersebut diturunkan kepada putrinya Hj. Sutiyah kemudian turun lagi ke adiknya Misayati. Setelah Misayati tiada, kini usaha tersebut dipegang oleh cicitnya yaitu Rosidah dan Farida. 

Meski sudah zaman modern, namun untuk menciptakan rasa yang khas dan meneruskan resep sang pioner, Farida dan Rosidah hingga saat ini masih memasak cendol, bubur, gula hingga santanya pun masih menggunakan kayu bakar.

Baca juga !  6 Makanan Khas Pati yang Banyak Diburu Pecinta Kuliner

“Pesan dari mbah dulu, masaknya harus tetap dengan kayu bakar. Dan untuk membuat cendolnya pun dengan menggunakan sagu aren yang hanya ada di Jepara. Sagu tersebut bahanya sama dengan makanan khas Jepara yaitu horog-horog,” jelasnya.

Hingga generasi keempat ini, mereka masih menjunjung tinggi resep turun temurun itu. Hanya saja untuk tempat jualan sudah berpindah.Namun sejak neneknya Hj. Sutiyah selaku generasi kedua mulai menua dan sakit akhirnya mereka pindah disebelah timur Makam Mantingan.

Titik (40) warga Panggang mengaku setiap melintas didearah Mantingan, pasti menyempatkan mampir ke cendol yang melegenda itu. Bahkan setiap hari Jumat, dia bersama teman-temanya menyempatkan untuk menikmati kesegaran dawet tersebut.

“Rasanya khas, manis, gurih dan segarnya itu belum bisa ditemukan di dawet-dawet yang lain. Selain itu harganya cukup terjangkau hanya Rp 3.500 perporsi jadinya sangat terjangkau,” jelasnya. (TM/MUN)

Artikel ini telah dibaca 339 kali

Baca Lainnya