Genuk Kemiri, Petilasan Kadipaten Pesantenan

  • Whatsapp
tajukmuria.com, Pati – Genuk kemiri merupakan salah satu peninggalan sejarah yang terletak di wilayah Kemiri. Disinilah dalang kondang bernama Soponyono dan Adipati Jaya Kusuma pemegang kekuasaan kadipaten pesantenan dimakamkan.
Selain terdapat makam,di dukuh kemiri terdapat  pohon beringin yang dangat tua. Menurut penyelidikan, pohon beringin kemiri lebih tua dari pada pohon beringin alun – alun Yogyakarta maupun Surakarta.

Dilihat dari besarnya batang beserta akar-akar tunjang dan saluran –salurannya, diperkirakan  pohon beringin tua dikemiri hasil peninggalan Kadipaten Pasentenan yang sudah berumur antara 600-700 tahun tingginya kira-kira 30 m.Jarak 60 m dari pohon beringin kuno ini,juga terdapat peninggalan kuno berupa “Genuk” atau Gentong”, yang tarkenal dengan nama “Genuk Kemiri”. Genuk ini merupakan genuk perama rejeki seseorang menurut kepercayaan masyarakat banyak.Banyak sedikitnya rejeki bergantung banyak sedikitnya air dalam genuk,jadi hanya terserah pada yang menjenguk genuk, yang bisa membuktikan dan percaya atau tidak.

Konon berdasarkan tuturan cerita dari juru kunci Genuk Kemiri mbah Slamet Genuk Kemiri itu pada dulunya adalah seorang bakul dawet yang namanya pak Sagolo.Pada jaman itu Raden Kembang Joyo ada acara babas alas Kemiri ,pada waktu dulu itu pak Sagolo Sebagai penjual dawet,dan dia itu sangat dipercayai oleh masyarakat sekitar, Pada saat babas alas  banyak sekali orang kerja dan pak Sagolo bermaksud untuk menawarkan dawetnya itu.

Baca juga !  Usai Tipu Warga, Polisi Gadungan Diamankan Polsek Randublatung

Lalu orang kerja pun menikmati dawet tersebut termasuk Raden Kembang Joyo. Setelah Raden Kembang Joyo merasakan enaknya dawet tersebut lalu dia bertanya kepada pak Sagolo “apa ini pak???. Kok makanan ini enak“ Tanya Raden kembang Joyo.

Lalu Pak Sagolo pun mejawab”ini dawet Raden? Yang terbuat dari Pati dan Santen. Kalau begitu apabila  keraton ini sudah berdiri akan aku namakan Keraton Pesantenan Pati “kata Raden Kembang joyo”. itu jasanya bakul dawet pada jaman dahulu yang bisa memberikan nama Pesantenan Pati, dari pak Sagolo tersebut.

Berhubungan pak Sagolo bejualan di desa kemiri dan menetap di Desa tersebut Raden Kembang joyo bermaksud untuk menitipkan barang- barang bawaannya,terutama pusakanya yaitu keris Rambutpinutung,yang digunakan untuk babat alas tersebut.

Setelah acara babat alas pun selesai dan Keraton Pesantenan Pati sudah jadi, pusaka tersebut pun diminta kembali oleh Raden Kembang Joyo, berhubung  pak Sagolo itu tahu bahwa pusaka itu mempunyai kelebihan. barang siapa yang bisa memiliki pusaka tersebut kuat menjadi Raja, Lalu pak Sagolo, kalau menurut bahasa jawa “ora ngilu jitok’e nak wong’e iku golongan opo” dan akhirnya seakan- akan pak Sagolo itu mempunyai kemilikan, kemilikan itu seakan-akan dia itu di Tanya sama Raden Kembang Joyo atas pusaka yang telah dia titipkan kepada pak Sagolo,Seakan-akan pak Sagolo itu melupakan diri, ”Wong ditekoni kok begegel koyok genuk” kata Raden Kembang Joyo.

Baca juga !  Dua Motor Tabrakan di Dukuhseti Pati, Pengendara Vega Meninggal di Tempat

Kemudian pak Sagolo pun menjadi genuk,dan berhubungan kejadian itu terjadi  di Desa kemiri, lalu Genuk itu dinamakan Genuk Kemiri yang berasal dari Pak Sagolo bakul dawet pada jaman dahulu.

Biarpun pak Sagolo termasuk orang salah? Tetapi dia itu sangat mempunyai jasa bisa menciptakan suatu nama yaitu Pesantenan Pati,maka dari itu dia pun diabadikan dan air dalam genuk tersebut ada manfaatnya bagi anak cucu di Pati,kareana air tersebut mempunyai banyak kelebihan diantaranya:untuk pengobatan- pengobatan bagi yang mempercayainya,air di dalam genuk tersebut sudah ada saat terjadinya Genuk Kemiri.

Tetapi lama-kelamaan air tersebut pun habis karena jaman sudah berubah dan banyak orang mengambilnya, tetapi pada jaman sekarang ini penjaga atau juru kunci dari Genuk Kemiri mengisi air di dalam Genuk tersebut, tetapi dalam pengisiannya tidak sembarangan karena ada ritualnya sendiri dan hari pengisiannya di tentukan yaitu pada hari jumat Wage, Air di isi penuh kedalam genuk tersebut, apabila sudah habis lagi maka, ritual dan pengisian di ulang kembali, sebelum pengisian dilakukan Genuk itu di bersihkan terlebih dahulu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *