Berkunjung ke Pati Selatan, Ganjar disambut Poster “Tolak Pabrik Semen”

  • Whatsapp

TajukMuria.com, Pati – Kunjungan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Kabupaten Pati, mendapatkan sambutan dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK).

Mobil Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo ketika menuju destinasi wisata Goa Pancur disambut teriakan dan poster bertuliskan “tolak pabrik semen” oleh Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) di Desa Jimbaran, Kecamatan Kayen, Pati, Senin (4/11). 

Bacaan Lainnya

Loading...

Selain itu, ada juga anggota JMPPK yang membawa baliho dengan gambar pemukulan posisi terhadap petani di rembang pada tahun 2014 silam.

Baca juga !  Ganjar Dorong Guru Jateng Nyambi Jadi Youtubers

Anggota JMPPK, Suharno saat dikonfirmasi membenarkan adanya aksi penolakan tersebut.   

“Kami meminta agar Ganjar tidak menyetujui pendirian pabrik semen di Pati. Orang Pati selatan ingin pelestarian lingkungan,” tegasnya.  

Suharno turut mengkritisi pendirian izin tambang yang berada di kawasan Pegunungan Kendeng yang disinyalir dapat merusak keseimbangan lingkungan. Ia berharap agar Ganjar lenih mendengarkan suara warga di Pati bagian selatan khususnya yang bermukim di wilayah Pegunungan Kendeng.  

“Harusnya ikut mereboisasi, bukan malah ikut ngobral izin-izin tambang di wilayah Kendeng,” ujarnya. Dihubungi terpisah, Karwi, warga Desa Jimbaran menyebut aksi massa tersebut sebagai wujud kegelisahan masyarakat terhadap banyaknya aktivitas tambang galian C di Pegunungan Kendeng. Terlebih saat mengemukanya wacana pendirian pabrik semen dari PT Sahabat Mulia Sakti (SMS) yang merupakan anak perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa.   

Baca juga !  Ganjar Tawarkan Investasi di Dua Sektor Ini ke Pengusaha Fujian

“Ini yang kemudian kita sikapi, setelah adanya hasil KLHS yang dibentuk oleh presiden dengan rekomendasi tidak ada pertambangan di Pegunungan Kendeng, tetapi kenapa sekarang malah bermunculan izin-izin tambang [galian C],” ucapnya.   

Ia turut khawatir berdirinya pabrik semen di wilayah tersebut akan semakin merusak lingkungan. “Padahal kita tahu, tahu sendiri waktu kemarau kemarin kita kesulitan air. Flashback empat tahun lalu saat pak Ganjar di Desa Jembersari akan melestarikan hutan menindak perusak hutan, tetapi hutannya sekarang malah disewakan,” pungkasnya. (gatra)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *