Asal Usul “Desa Cebolek”, Begini Ceritanya!

  • Whatsapp

tajukmuria.com, Cerita Rakyat – Desa Cebolek Kidul terletak di Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati Jawa Tengah. Secara Geografis Desa Cebolek terletak di 636’12.14”S 11103’44.28” E. Termasuk desa Agraris yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian, baik sawah maupun tambak. Masyarakatnya berkehidupan sederhana dan tentram. Bahkan ada istilah hidup orang desa Cebolek Kidul “ tiktang” (angger entuk sithik yo athang-atang= Kalau sudah dapat rezeki dikit ya sudah santai-santai).

Ini menurut orang tua ketika penulis tanyakan sebab di Desa ini dulu pernah ditempati Ulama besar yaitu KH. Ahmad Mutamakkin atau terkenal dengan sebutan Mbah Mutamakkin yang petilasan Kediamannya sekarang berada disebelah selatan Pondok Al-Inayah Cebolek Kidul yaitu sekarang kampong milik keluarga Mantan Modin Sutarman RT. 3 RW III Cebolek Kidul.

Konon ceritanya di Desa Cebolek inilah Mbah Mutamakin, pada masa riyadzohnya, melakukan puasa 40 hari berturut-turut sambil mengamalkan dzikir tarekat. Dia berbuka hanya sedikit sekali, sehingga senantiasa kelaparan selama 39 hari. Pada hari ke-40, menjelang berbuka puasa, Mbah Mutamakin meminta dimasakkan makanan kesukaannya yang enak-enak, ditambah semua jenis makanan yang rasanya “mak nyuuussss.” Kemudian beliau meminta agar dirinya diikat kuat-kuat di tiang – tubuhnya dililit kuat-kuat dengan tali dari leher sampai kaki. Lalu semua makanan dan minuman yang  enaak tenan diletakkan di depannya. Ketika bedug maghrib tiba. Nafsu makannya pun terbit. Tetapi Mbah Mutamakin yang terikat tentu tidak bisa mengambil makanan. Dan hawa nafsunya pun berontak. Terjadilah “pertempuran” hebat dalam dirinya. Mbah Mutamakin terus digoda agar memanggil istrinya untuk melepaskan ikatan agar bisa melahap makanan. Tetapi Mbah Mutamakin bertahan. Akhirnya hawa nafsunya sudah tak tahan lagi, dan keluar dari tubuh Mbah Mutamakin, menjelma menjadi dua ekor anjing, yang langsung melompat menghabiskan seluruh makanan. Setelah kenyang, nafsu itu ingin kembali ke Mbah Mutamakin. Tetapi Mbah Mutamakin menolaknya. Sejak itu dua ekor anjing itu menjadi peliharaannya, dan diberi nama Abdul Qahar dan Qamaruddin.

Mbah Mutamakkin adalah seorang ulama yang berasal dari Tuban, Jawa Timur. Nama “Mutamakkin” yang bermakna orang yang meneguhkan hati atau yang diyakini akan kesuciannya konon adalah gelar yang diberikan kepada beliau seusai dari menuntut ilmu dari Timur Tengah. Garis keturunanMbah Mutamakkin dari bapak adalah Sultan Trenggono (Raja Demak III tahun 1521-1546) yang bertemu dengan pada silsilah Raden Fatah (Pendiri Kerajaan Demak 1478-1518). Dari Ibu, keturunan Sayid Ali Bejagung, Tuban Jatim. Sayid Ali ini mempunyai putera bernama Raden Tanu, Tanu ini mempunyai seorang puteri, yakni ibu Mbah Mutamakkin. “Sumohadiwijaya” adalah nama ningrat Mbah Mutamakkin. Putera Pangeran Benawa II (Raden Sumohaidnegara) bin Pangeran Benawa I (Raden Hadiningrat) bin Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) bin Ki Ageng Pengging bin Ratu Pembayun binti Prabu Brawijaya. Ratu Pembayun adalah saudara perempuan Raden Fatah. Istri Jaka Tingkir adalah Putri Sultan Trenggono bin Raden Fatah. Diperkirakan beliau hidup sekitar tahun 1685-1710.

Baca juga !  6 tahun Hilang, Unit Reskrim Polsek Winong Temukan Motor Ibu Sutrini

Terdapat pula cerita yang berkembang di masyarakat setempat (foklor) menyebutkan, sepulangnya dari menunaikan Ibadah haji, beliau menaiki jin. Tiba-tiba di tengah laut, oleh jinnya, beliau dijatuhkan di tengah laut. Kemudian beliau diselamatkan “Ikan Mladang”. Beliau dilemparkan sampai di suatu tempat. Tempat tersebut dinamai Desa Cebolek.

Ada dua versi tentang asal usul desa ini. Pertama adalah dari kata “ceblok” (jatuh), dan kedua “Jebol-jebul melek” (tiba-tiba membuka mata).  Kemudian beliau berjalan kearah barat, ketika waktunya sholat Dhuhur  maka beliau mencari air wudlu, namun karena tempat itu di sekitar pantai beliau menacapkan tongkat dan ajaib Air tawarpun mengalir yang kemudian dipergunakan beliau untuk berwudlu, oleh orang-orang Cebolek sekarang terkenal dengan nama sawah sumur . kemudian beliau melanjutkan perjalannya kearah selatan  kemudian menetap di  untuk beberapa lama yang terkenal dengan nama Bango yang  kemungkinan wilayah ini dulutermasuk wilayah cebolek Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati Jawa Tengah yang Kemudian pada masa sekarang masuk wilayah Bulumanis Lor.  Setelah  Mbah Mutamakkin tinggal di desa ini dan banyak warga yang berguru, konon pada waktu masuk waktu sholat banyak santri yang masih berwudlu , sehingga Mutamakkin sempat menegur beberapa santri  “ wudlu kok kecipak-kecipuk ora bar-bar koyo kutuk ! “  ( wudlu kok ciprat-cipratan air nggak selesai-selesai kayak ikan kutuk / ikan gabus ). Sehingga kali / sungai  yang berada di pinggir sumur itu terkenal dengan nama “ Kali Kutukan “.  Karena keberadaan beliau kurang disukai  penguasa (Dayang) Bulumanis akhirnya beliau pindah ke sebelah barat Desa Cebolek 400 meter dari Desa Kajen.  atau sa’at ini tepatnya di depan PP.Al-Inayah Cebolek Kidul Sekarang, oleh Warga RT3. RW 3 kemudian dibangunlah Musholla dengan nama Musholla Al-Mutamakkin.

Pada suatu malam, Mbah Mutamakkin melihat sinar yang terang di langit. Karena heran, kemudian beliau mencari dari mana asal sinar tersebut. Ternyata sinar tersebut adalah sinar K.H Syamsuddin, pemangku Desa Kajen yang sedang melaksanakan shalat tahajjud. Tidak banyak cerita yang berkembang, kemudian Mbah Mutamakkin dinikahkan dengan putrinya Nyai Qodimah. . Dari perkawinan tersebut Mbah Mutamakkin memiliki putra yaitu :

  1. Alfiyah Godeg ( dimakam di desa Kajen Kec. Margoyoso Pati )
  2. Bagus ( dimakam di ampel denta Surabaya Jawa Timur
  3. Endro Muhammad ( dimakam di desa Gambiran Kec. Margorejo Pati )

Putra kedua, Kiai Bagus kemudian bertempat tinggal di Jawa Timur. Di negeri orang tersebut, Kiai Bagus memiliki keturunann antara lain KH Hasyim Asyari (Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang), dan K.H Bisri Syamsuri (Pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang). Keduanya ini adalah kakek Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Sedangkan Alfiyah dan Endro tetap tinggal di kajen. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, banyak keturunan Mbah Mutamakkin yang mendirikan sejumlah pondok pesantren (Ponpes) di Kajen. Misalnya pada tahun 1900, Kiai Nawawi putra KH Abdullah mendirikan Ponpes Kulon Banon atau Taman Pendidikan Islam Indonesia (TPII). Pesantren ini adalah Pospes tertua di Desa Kajen.

Baca juga !  Hingga 5 November 2019, Pelanggaran Ini Jadi Sasaran Operasi Zebra Candi 2019 Polres Pati

Menyusul kemudian, KH Ismail mendirikan Ponpes Raudhatul Ulum (PPRU), Tahun 1902, KH Siraj, putra KH Ishaq mendirikan Ponpes Wetan Banon yang kemudian dikenal dengan Ponpes Salafiyah yang kemudian dilanjutkan oleh KH Baidhowi Siroj. Penamaan Kulon atau wetan banon ini didasarkan atas posisinya dari komplek pesarean Mbah Mutamakkin yang dikelilingi tembok besar (banon).

Sekitar tahun 1910, K.H Abdussalam (Mbah Salam), saudara Mbah Nawawi, mendirikan pesantren di bagian Barat Desa Kajen yang dinamakan Popes Pologarut. Dalam perkembangannya menjadi Ponpes Maslakhul Huda Polgarut Putra (PMH Putra) dan Polgarut Selatan (PMH Pusat).
Murid dari Mbah Mutamakkin sangat banyak. Di antranya Mbah Ronggokusumo, Kiai Mizan, dan Kiai Shaleh. Mbah Ronggo putra kiai ageng Meruwut, yang masih keponakan Mbah Mutamakkin. Dia ditugaskan di Ngemplak.

Peninggalan Arkeologis
Pesarean (makam) Mbah Mutamakkin berada di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Tepatnya 18 kilometer ke arah utara Kota Pati.
Salah satu peninggalan beliau adalah sebuah masjid yang klasik. Masjid Kajen, orang setempat menyebutnya. Masjid tersebut terbilang unik. Pasalnya, hampir seluruh bagiannya terbuat dari kayu jati.

Walaupun pernah dipugar beberapa kali, namun dua saka (tiang) yang berada paling depan yang disebut “saka nganten,” dan dua buah pintu yang berada di sebelah utara dan selatan masih tetap utuh.

Seperti umumnya masjid jami’, di Masjid Kajen juga terdapat sebuah mimbar. Mimbar yang diyakini buah karya Mbah Mutamakkin penuh dengan ornament yang tinggi seninya. Banyak penafsiran tentang ornament tersebut. Misalnya bulan sabit yang dipatok burung bangau. Artinya: semangat dan do’a akan snggup untuk menggapai cita-cita yang mulia.

Pada mimbar juga terdapat sebuah ukiran berbentuk kepala naga yang berjumlah dua, yakni sebelah kanan dan kiri mimbar. Ada juga yang mempercayai dua kepala naga tersebut adalah naga milik Aji Saka (Tokoh legenda sejarah masuknya Islam di Tanah Jawa yang dianggap juga seletak penanggalan tahun saka).

Selain masjid, terdapat juga peninggalan berupa sumur Mbah Mutamakkin yang berada di Desa Bulumanis Lor . Air tersebut tidak berasa tawar meskipun berjarak sekitar satu kilometer dari laut.

Karena jasa Mbah Mutamakkin, sedikitnya terdapat 34 Ponpes yang berdiri di Desa Kajen dan 4 Ponpes di Desa Cebolek Kidul hingga sekarang. Selain pesantren tradisional, muncul berbagai lembaga pendidikan nasional yang unik. Walaupun menggunakan pelajaran umum, namun tidak lupa kitab kuning juga diajarkan di sekolah tersebut

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *