2020 Buruh Pabrik Rokok Diskrining HIV

  • Whatsapp

tajukmuria.com, Kudus – Sebanyak 2020 buruh rokok di Kabupaten Kudus menjalani skrining HIV secara serentak pada Selasa (10/12).

Progam pemutusan mata rantai penularan HIV yang diusung Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kudus bersama Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dan Dinas Ketenagakerjaan Perindustrian Koperasi dan UKM (Disnakerperinkop dan UKM) Kudus itu disambut antusias oleh ribuan buruh rokok.

Bacaan Lainnya

Loading...

Dengan membawa selembar fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai syarat administrasi. Secara bergantian mereka menjalani Rapid Test HIV.

Nuryanto, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupatan Kudus mengatakan kegiatan skrining serentak hari ini dilakukan di tiga tempat. Yakni Nikorama Mejobo dengan sasaran 1500 buruh rokok, Nikorama Pusat dengan 150 buruh rokok dan Nikorama Menur dengan 370 buruh rokok .

Baca juga !  3 Kecamatan di Kudus Diterjang Banjir

Skrining kali ketiga, sejak dibuka pada 12 November lalu di Pendopo Kabupaten dengan sasaran sebanyak 141 orang. Dan dilanjutkan di brak Djarum Garung Lor dengan sasaran 600 buruh rokok.

“Total ada sekitar 2.761 buruh yang kita skrining dari target 20 ribu buruh,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari temuan 99 kasus HIV/AIDS baru di Kudus pada tahu 2019 ini. Dengan total kasus dari tahun 2010 – 2019 sebanyak 997 kasus.

Fenomena gunung es, yang menjadi visualisasi penanganan HIV/AIDS selama ini, harus dituntaskan dengan kegiatan screening. Dengan screening masal ini, pihaknya optimis dapat menjaring para penderita HIV/AIDS untuk segera mendapatkan pengobatan.

“Prinsipnya, semakin banyak yang terdeteksi akan semakin bagus. Karena ada banyak penderita yang terobati,” tegasnya.

Baca juga !  Jagong Kamling, Salah Satu Inovasi Kreatif Kapolres Kudus

Hal senada diungkapkan oleh Eni Mardiyanti, Koordinator KPAD Kudus. Kepada awak media dia mengatakan tren penemuan kasus HIV/AIDS di Kudus setiap tahunnya mengalami peningkatan. Hanya saja, temuan kasus tersebut sering kali terungkap saat penderita telah memasuki fase AIDS.

“Sekitar 90 persen kasus ditemukan pada fase AIDS,” sebutnya.

Keterlambatan penemuan kasus ini yang kemudian membuat penanganan kasus yang ada tidak bisa berjalan dengan maksimal. Untuk itu, pihaknya bersama Pemkab Kudus berusaha menggalakkan deteksi dini kasus HIV. Agar kualitas hidup para penderita HIV ini bisa tetap baik.

Guna mensukseskan progam ini, pihaknya meminta dukungan seluruh masyarakat Kudus. Dengan bersedia melakukan screening.

“Dengan screening ini, kami berharap target zero infeksi baru, zero diskriminasi dan zero stigma dapat tercapai,” pungkas dia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *