190.878 Pelajar SMA-MA di Jawa Tengah Ikuti UNBK, Kota Semarang Ada 99 Sekolah Penyelenggara

  • Whatsapp

TajukMuriaCom, Semarang – Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMA sederajat dimulai Senin (1/4/2019).

Bagi sekolah yang menggunakan kurikulum 2006 ataupun 2013, pelaksanaan ujian disebut tak mengalami perbedaan.

Bacaan Lainnya

Loading...

Hal itu diungkapkan Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kota Semarang, Wiharto, Minggu (31/3/2019).

“Bagi sekolah yang menggunakan Kurikulum 2006 dan K13 tak ada perbedaan,” ujar Wiharto.

Untuk SMA dan MA di Kota Semarang, menurutnya tak ada yang menggunakan Kurikulum 2006.

Baca juga !  Ditreskrimsus Polda Jateng Berhasil Mengungkap Kasus Pengoplosan Gas LPG Antar Kota

Tetapi di kota lain beberapa sekolah masih menggunakan kurikulum tersebut.

“Misalnya di Kabupaten Wonogiri ada sekolah yang masih menggunakannya. Tetapi tidak ada perbedaan. Tetap sama saja model dan soal ujiannya,” tuturnya.

Menurut dia, ada 99 sekolah di Kota Semarang yang menjadi peserta UNBK SMA sederajat tahun ini.

Jumlah itu terdiri dari 16 SMA negeri dan 56 SMA swasta.

Lalu 2 MA negeri dan 25 MA swasta.

“Semua SMA sederajat di Semarang 100 persen memakai komputer dalam pelaksanaan UNBK tahun ini,” ujar Wiharto.

Wiharto berharap pelaksanaan UNBK SMA sederajat tahun ini berlangsung lancar.

Pihaknya bersama berbagia pihak lain telah melakukan sinkronisasi server agar UNBK di Semarang berlangsung lancar.

“Sinkronisasi server sudah dilakukan sejak Jumat (29/3/2019),” ujar Wiharto.

Baca juga !  Petugas Imigrasi Bekerjasama Dengan Polda Jateng Ungkap Kasus 40 WNA Sindikat Penipuan

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Sulistyo menjelaskan, ada 190.878 peserta UNBK SMA/MA di Jawa Tengah tahun ini.

Jumlah tersebut berasal dari 1.514 SMA/MA.

Pelaksanaan UNBK SMA/MA yakni pada 1, 2, 4, dan 8 April 2019.

Sulistyo menjelaskan, untuk UNBK SMA/MA, sebagaimana UNBK SMK minggu lalu menggunakan sistem resource sharing.

“Untuk ujian SMA/MA di Jawa Tengah sudah kami data, gunakan sistem komputer,” jelas Sulistyo.

Sepenilainya, model resource sharing memungkinkan sekolah yang tak memiliki komputer yang cukup tetap bisa menggelar UNBK.

Yaitu melalui penggunakan komputer di SMA, SMK, atau SMP terdekat.

“Jadi 100 persen terapkan UNBK. Jadi itu mengapa waktu ujian nasional SMK, SMA sederajat dan SMP sederajat berbeda,” papar dia.

Sumber : tribunnews

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *